Guber News

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget


BDR Rangkuman Materi Kelas 4 Tema 8 Subtema 2 Pembelajaran 3

BDR Rangkuman Materi Kelas 4 Tema 8 Subtema 2 Pembelajaran 3

Pelaku Kegiatan Ekonomi

Dalam kegiatan ekonomi terdapat tiga pelaku, yaitu produsen, konsumen, dan distributor.

Produsen adalah orang yang melakukan usaha produksi.

Konsumen adalah orang yang membeli dan memakai hasil produksi.

Distributor adalah orang yang menyalurkan barang dari produsen ke konsumen.

Ketiga pelaku saling berkaitan satu sama lainnya. Jika tidak ada salah satu di antara para pelaku, maka kegiatan ekonomi tidak akan berjalan.


Masyarakat Perkotaan

Kota merupakan tempat berpenduduk ribuan lebih manusia. Pengertian kota dapat dikenakan pada suatu daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan. 

Ciri-ciri masyarakat perkotaan sebagai berikut.

1. Masyarakat dapat mengurus diri sendiri (individualisme)

2. Pembagian kerja lebih tegas dan nyata

3. Lowongan pekerjaan lebih banyak

4. Waktu adalah segalanya

5. Terbuka terhadap perubahan zaman

Sikap yang harus ada demi menciptakan kehiudupan rukun dan berdampingan sebagai berikut

1. Menyadari bahwa setiap manusia memiliki perbedaan, baik sifat, watak maupun budaya

2. Memiliki sifat toleransi dan empati. Toleransi adalah menghargai perbedaan. Empati adalah secara ikhlas mau merasakan pikiran dan perasaan orang lain.

3. Menjadikan perbedaan sebagai kekayaan bangsa.

4 Ketika ada perselisihan diselesaikan dengan musyawarah.


Bacalah cerita rakyat berikut!

Cerita Legenda Di Indonesia Asal Mula Sungai Kawat Di Kalbar

    Dikisahkan, ada seorang nelayan don keluarganya tinggal dekat sungai di kota Sintang, Kalimantan Barat. Kehidupan mereka sungguh sangat sederhana. Bahkan, dapat dikatakan serba kekurangan. Sehari-hari nelayan itu menangkap ikan di sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Apabila sedang mujur, banyak ikan yang dapat dibawa pulang. Sebaliknya, tak jarang ia kembali ke rumah dengan tangan hampa.

    Suatu ketika, nelayan itu keluar dari rumah hendak memancing ikan. Dibawanya dua buah pancing yang biasa digunakan. Tujuannya, satu pancing sebagai cadangan jika satu pancing lagi putus. Dengan semangat ia mendayung perahu menuju sungai. Ia begitu berharap bahwa hari ini merupakan hari keberuntungannya. Pancing diberi umpan dan dilemparkan ke salah satu bagian sungai yang menurutnya banyak terdapat ikan.

    Matahari telah tinggi, teriknya hingga menembus kulit. Sungguh panas hari itu melebihi biasanya. Sudah lama ia menunggu, tetapi tidak didapatinya satu ekor ikan pun. Namun, ia tetap bersabar menunggu. Nelayan itu tetap meneguhkan hatinya untuk menunggu dan menunggu. Apapun yang terjadi, ia harus pulang ke rumah membawa ikan. Tekadnya kuat dan semangatnya membara untuk tetap bertahan.



    Namun tanpa disadari, kailnya mengait sesuatu. Ketika diangkat ternyata kailnya menyangkut satu gulungan kawat. Ketika diperhatikan lebih dekat ternyata gulungan kawat tersebut terbuat dari emas. Sontak, rasa suka cita menyelimuti dirinya. Ia membayangkan betapa mahalnya harga gulungan kawat itu apabila dijual. Satu depa panjangnya telah ia tarik, ia semakin bersemangat. Agaknya nafsu serakah telah menguasai dirinya. Hari semakin gelap, ia terus menarik kawat yang seakan-akan tidak ada ujungnya. Sungguh aneh, dari dalam ada yang berkata.

    “Sudah, cukuplah, putuskan saja kawatnya.” Tetapi nelayan itu tidak mau menuruti suara itu. Ia terus saja menarik kawat emas itu, agar secepatnya menjadi kaya. Ia teringat kehidupannya selama ini yang serba kekurangan. Ia juga terbayang raut wajah keluarganya yang selalu tidak pernah merasa kenyang karena makan yang selalu kurang. Semangat membawa pulang kawat emas sebanyak-banyaknya menjadikan ia lupa diri. Nafsu serakah telah menguasai jiwanya. Sekali lagi, suara yang berasal dari dalam sungai menyuruhnya berhenti.

    “Potong saja kawatnya, jangan diteruskan!”

    Namun, nelayan itu sudah keras hatinya. Air pelan-pelan memenuhi perahu, karena tidak kuat menanggung beban gulungan kawat yang demikian banyak. Ia terus saja menarik kawat dari dalam sungai. Ia baru tersadar, ketika perahu hampir karam. Akan tetapi, kesadaran itu terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Nelayan tak sempat lagi menyelamatkan diri. Tidak berapa lama lagi, air telah memenuhi seluruh bagian perahu. Saat itu juga perahu si nelayan tenggelam ke dasar sungai untuk selamanya. Tidak ada orang yang bisa menolongnya. Hari telah gelap. Sunyi pun perlahan merayap. Nelayan itu tidak muncul lagi ke permukaan air. Ia mati sia-sia, karena menuruti nafsu serakahnya. Di kemudian hari, peristiwa tersebut menjadi pertanda bagi semua orang untuk menahan diri dari nafsu yang tidak bertepi. Sungai tempat tenggelamnya si nelayan diberi nama sungai Kawat. Itulah asal-usul nama Sungai Kawat.(sumber: https://dongengceritarakyat.com/)

LATIHAN SOALNYA (KLIK DISINI)

Sebarkan link:

Posting Komentar

0 Komentar