Guber News

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget


Rangkuman Materi Kelas 5 Tema 7 Subtema 1 Pembelajaran 4

 A. Peristiwa Sejarah dan Kondisi Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Awal Pergerakan Nasional

Pada masa penjajahan kehidupan rakyat Indonesia sangat menderita. Rakyat Indonesia berjuang mengusir penjajah dengan berbagai cara tetapi tidak berhasil. Faktor yang menyebabkan gagalnya perjuangan di Indonesia adalah:

    1. Perjuangan bersifat kedaerahan
    2. Perlawanan dilakukan sendiri-sendiri
    3. Masih bergantung pimpinan
    4. Kalah dalam persenjataan
    5. Belanda menerapkan politik adu domba

Dengan pengalaman tersebut, kaum terpelajar ingin berjuang dengan cara modern, yaitu menggunakan organisasi. Munculnya organisasi-organisasi tersebut menandai lahirnya pergerakan nasional.

Berikut beberapa organisasi nasional:

1. Budi Utomo

Dibentuk tanggal 20 Mei 1908 oleh Soetomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo. Merupakan organisasi pertama di Indonesia. Tanggal berdirinya dijadikan sebagai hari nasional, Hari Kebangkitan Nasional.]

2. SDI (Serikat Dagang Islam)

Didirikan di Solo 1911 oleh H. Samanhudi. Sejak kepemimpinan berpindah ke Surabaya, dan kepemimpinan saat itu berpindah ke HOS Cokroaminoto. Nama SDI berubah menjadi SI (Serikat Islam), bertujuan untuk memperluas jangkauan dan ruang geraknya.

3. Indische Partij

Berdiri tanggal 25 Desember 1912 di Bandung oleh Tiga Serangkai yaitu Duwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dr. Cipto Mangunkusumo. 

Indische Partij banyak mengeluarkan tulisan kritikannya terhadap pemerintah Hindia Belanda melalui surat kabar yang sering dipublikasikan. Salah satu tulisan yang paling terkenal adalah tulisan dari Suwardi Suryaningrat berjudul “Als Ik eens Nederlander was” di surat kabar De Express pada tanggal 13 Juni 1913.

Akibat kegiatan-kegiatan organisasi ini yang terlalu keras menentang pemerintah kolonial Belanda, pada Desember 1913, Indische Partij dilarang melakukan kegiatannya serta tokoh “Tiga Serangkai” diasingkan ke Belanda.

B. Kosakata Baru dalam Bacaan

Kata baku adalah kata yang sesuai dengan EYD (Ejaan yang Disempurnakan) ejaan kaidah bahasa Indonesia. Kata baku sering digunakan saat acara formal, seperti pidato, atau berbicara dengan orang yang dihormati (lebih tua). Contoh: aku, kamu, apotek, kwitansi.

Ciri-ciri kata baku:

    1. kata baku tidak dapat berubah setiap saat
    2. tidak terpengaruh bahasa daerah
    3. bukan bahasa percakapan sehari-hari
    4. tidak terpengaruh bahasa asing
    5. tidak mengandung arti rancu dan pleonasme (lebih dari apa yang diperlukan)

Kata tidak baku adalah kata yang tidak sesuai dengan EYD. Kata tidak baku digunakan dalam percakapan sehari-hari, misalnya dengan adik, atau teman sebaya. Contoh: gua, lo, apotik, kuitansi.

Ciri-ciri kata tidak baku:

    1. dapat terpengaruh bahasa daerah dan bahasa asing    
    2. terpengaruh perkembangan zaman
    3. digunakan pada percakapan sehari-hari
    4. dapat dibuat oleh siapa saja

Selain EYD, Kamus Besar Bahasa Indonesia juga dijadikan rujukan dalam penentuan baku atau tidaknya suatu kata.

C. Keragaman Suku Bangsa di Indonesia

Peristiwa Sumpah Pemuda menjadi bukti adanya rasa persatuan dan kesatuan tanpa memandang perbedaan suku, ras, agama. Keberagaman yang kita miliki merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai. Perbedaan antar suku terletak pada adat istiadat, bahasa daerah, dan sistem kekerabatan.

    1. Adat Istiadat

    Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai adat istiadat yang berbeda, seperti upacara adat dan kebiasaan-kebiasaan lain. Upacara adat biasanya berkaitan dengan kepercayaan hidup masyarakat setempat. Upacara adat dapat mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Contoh: ngaben (upacara pembakaran mayat di Bali), kasada (mempersembahkan sesaji ke kawah Gunung Bromo yang dilakukan masayarakat Tengger, Jawa Timur), dan tindik telinga (pemasangan anting-anting oleh suku Dayak di Kalimantan Timur).

    2. Bahasa Daerah

    Setiap suku bangsa memiliki bahasa sendiri, contohnya bahasa Jawa, bahasa Batak, bahasa Madura, bahasa Minangkabau, bahasa Bali, dan bahasa Banjar.

    3. Sistem Kekerabatan

    Sistem kekerabatan merupakan sistem keturunan yang dianut oleh suku bangsa tertentu berdasarkan pada garis ayah, ibu atau keduanya.

    a. Sistem keturunan menurut garis ayah (patrilineal), contohya Batak, Bali, Papua.
    b. Sistem keturunan menurut garis ibu (matrilineal), contohnya suku Minangkabau
    c. Sistem keturunan menurut garis ayah dan ibu (bilateral).

Meskipun berbeda kita harus saling menghormati. Dengan saling menghormati suku bangsa lain, maka kita dapat hidup damai dan tentram secara berdampingan tanpa mempersoalkan dari mana asalnya.

LATIHAN SOAL Materi Kelas 5 Tema 7 Subtema 1 Pembelajaran 4 --> KLIK DISINI




Posting Komentar

0 Komentar