I-News

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

PUISI

 A. Dasar-dasar Puisi

Puisi: karya sastra yang terikat pada rima dan irama yang disusun dalam bentuk baris dan bait untuk menggambarkan perasaan pengarangnya.

Sumber: tajuklombok.com

Ciri-ciri Puisi:

1.      Ditulis dalam bentuk baris berjajar ke bawah secara berkelompok. Kelompok baris dalam

puisi disebut bait.

2.      Diksi (pemilihan kata) bersifat kias, padat, dan indah serta mempertimbangkan

rima/persajakan.

3.      Penggunaan majas (gaya bahasa, perumpamaan) sangat dominan.

4.      Latar, alur, dan tokoh tidak begitu ditonjolkan.

 

Unsur Puisi:

1.      Kata: unsur utama dalam penyusunan puisi, menentukan kesatuan dan keindahan makna

puisi secara keseluruhan.

2.      Larik atau baris: paduan kata-kata yang dituliskan dalam kalimat berbentuk baris.

3.      Kalimat dalam puisi tidak menggunakan aturan baku karena bisa berupa satu kata, frase, atau

kalimat lengkap.

4.      Bait: kumpulan larik yang tersusun harmonis, mengandung makna puisi.

5.      Rima: bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata untuk memperindah puisi, umumnya

berada di suku kata akhir setiap larik. Rima bisa berupa pengulangan bunyi (sajak a-a-a-a

atau a-b-a-b) atau bunyi bebas tanpa pola.

6.      Irama: pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut bunyi bacaan puisi.

7.      Makna/Isi: informasi utama yang disampaikan dalam puisi.

8.      Amanat: pesan yang disampaikan oleh penulis puisi kepada pembaca, tersirat di balik kata

kata dan berada di balik tema yang diungkapkan.

 

Jenis-jenis Puisi:

1.      Puisi Lama: puisi yang masih terikat oleh aturan rima dengan pola tertentu, pengaturan jumlah larik dalam setiap bait dan jumlah kata dalam setiap larik, serta musikalitas puisi.

a. Pantun (4 larik, 2 larik pertama berupa sampiran, 2 larik terakhir berupa isi, rima a-b-a-b)

b. Gurindam (2 larik, larik pertama berupa sampiran, larik terakhir berupa isi, rima a-a-a-a)

2.   Puisi Baru: tidak terikat dengan pola rima tertentu, jumlah baris, jumlah kata, maupun jumlah bait. Tetap mengandung irama, rima, musikalitas, makna, dan amanat.


B. Bahasa dan Makna Puisi

Bahasa Puisi: mengandung makna tersembunyi dan cenderung imajinatif

  1. Bahasanya singkat, padat, dan bermakna
  2. Menggunakan gaya bahasa (majas)
  3. Memiliki rima (persamaan bunyi) yang menambah keindahan, memberikan efek musikal, dan memberi kesan sehingga puisi mudah diingat
  4. Menggunakan pilihan kata (diksi) yang tepat, sesuai dengan tema yang disampaikan, agar mudah diingat, indah didengar/dibaca, dan menciptakan kekaguman
  5. Tidak selamanya menggunakan kata kiasan, ada kalanya menggunakan kata bermakna lugas. Semua bergantung pada tema puisi yang dibuat

 

Jenis-jenis Majas (Gaya Bahasa) dalam Puisi:

  1. Personifikasi: membuat suatu benda mati seakan berperilaku seperti manusia. Contoh: Pucuk-pucuk teh yang menggeliat
  2. Metafora: menjadikan suatu benda memiliki sifat baru di luar kebiasaan. Contoh: Batang usiaku sudah tinggi
  3. Pengulangan (Repetisi): penjajaran beberapa kata, frasa, atau kalimat yang sama. Contoh: Tak perlu sedu sedan itu
  4. Hiperbola: pernyataan yang berlebihan untuk memperhebat, meningkatkan kesan, dan daya pengaruh. Contoh: Pekik merdeka berkumandang di angkasa.
  5. Litotes: kebalikan hiperbola, mengecilkan atau mengurangi keadaan sebenarnya. Contoh: Aku bukanlah manusia yang berada. (padahal aslinya berada, digunakan untuk merendah)
  6. Ironi: menyatakan makna yang bertentangan untuk mengolok-olok/menyindir. Contoh: Bagus benar kelakuanmu, adikmu sendiri kau sakiti

Memahami Makna Puisi: mempelajari dan membaca puisi untuk dapat memahami makna sehingga mampu mengajak pendengar terhanyut ke dalam puisi yang dibawakan.

Jenis-jenis Makna Puisi:

  1. Makna lugas: makna sebenarnya, disampaikan secara jelas
  2. Makna kias: makna yang melambangkan sesuatu, ditujukan untuk membangun imajinasi
Sumber: Dewi Handayani, S.Pd (SDN 1 Kragilan)

Tugas !

1.     1. Ringkaslah materi puisi di atas!

 

Posting Komentar

0 Komentar